“Dana Abadi Yale merupakan hasil dari lebih dari 300 tahun kedermawanan dan didukung oleh pengeluaran yang disiplin serta manajemen investasi yang bijaksana. Dana Abadi ini mendukung setiap aspek universitas kami, dan menyumbang sekitar sepertiga dari anggaran operasional tahunan Yale.”
“Kami mengambil pendekatan jangka panjang dan berorientasi kemitraan dalam mengelola Dana Abadi. Pendekatan ini telah melayani komunitas Universitas dengan baik, dan imbal hasil investasi kami mendorong pertumbuhan kontribusi dana abadi yang memberikan dukungan yang kuat dan berkelanjutan bagi misi Universitas baik saat ini maupun untuk generasi mendatang.”
Dua alinea di atas adalah terjemahan kalimat yang muncul paling atas saat Anda membuka laman dana abadi Yale University. Kedermawanan 300 tahun. Wow. Saya pun tertarik untuk menguliknya lebih jauh.
Berdasarkan laporan keuangan terauditnya, tahun 2025 ini kampus bermoto Lux et veritas (cahaya dan kebenaran) ini memiliki total aset USD 49,37 miliar. Dalam rupiah: 838 triliun.
Besar kan? Besar sekali. Jauh lebih besar dari pada aset banyak perusahaan besar di Indonesia. Aset Saratoga misalnya “hanya” IDR 58 triliun. Aset Indofood “hanya” IDR 187 triliun. Aset Alfamart “hanya” IDR 39 triliun. Jauh di bawah aset Yale.
Tapi bukan besarnya yang menarik. Ada yang jauh lebih menarik: USD 44,16 miliar asetnya berupa dana abadi alias endowment fund alias wakaf dalam terminologi Islam. Dalam rupiah IDR 750 triliun. Artinya, 89% dari aset Yale adalah berupa dana abadi. Dominan sekali. Bandingkan dengan aset yang berupa tanah, bangunan dan alat-alat: USD 6,34 miliar. Hanya 13%.
Hasil investasi dana abadi ini berkontribusi USD 2,08 miliar terhadap biaya operasional kampus. Dalam rupiah: 35 triliun. Kontribusinya adalah 35% terhadap total biaya operasional kampus yang sebesar USD 5,89 miliar. Bandingkan dengan kontribusi uang kuliah (tuition) mahasiswa yang hanya USD 476 juta alias IDR 8 triliun. Hanya 8% dari total pendapatan kampus.
Kontribusi endowment bahkan lebih besar dari pendapatan proyek sebesar USD 1,27 miliar alias 22% dari total biaya operasional. Juga lebih besar dari pendapatan layanan kesehatan (Yale memiliki rumah sakit) yang sebesar USD 1,75 miliar alias 30% biaya operasional.
Nah, membaca angka-angka itu, barulah kita tahu bahwa angka 300 tahun itu buahnya luar biasa. Yale tidak tergantung pada pendapatan dari uang kuliah mahasiswa. Sebagai perguruan tinggi swasta berbadan hukum non share corporation (non profit corporation) Yale terbebas dari fenomena pendidikan transaksional “dosen dibayari mahasiswa”.
Apa 300 tahun itu panjang? Sebenarnya biasa saja. Mengapa? Mari kita baca sejarah. Ide mendirikan Yale muncul tahun 1700. Berdiri secara legal tahun 1701. Artinya, hari ini kampus itu berusia 325 tahun.
Ada selisih 25 tahun antara umur kampus dengan umur endowment fund. Kalau kita baca sejarah bagaimana kampus ini berdiri, semua berasal dari kedermawanan orang-orang baik. Sekali lagi kedermawanan. Bukan investasi. Bedanya, pada awal-awal para pendiri menyumbangkan harta fokus untuk kepentingan operasional. Baru 25 tahun kemudian memulai donasi untuk endowment fund.
&&&
Pembaca yang baik, endowent fund alias wakaf dalam terminologi Islam bagi sebuah lembaga pendidikan adalah sebuah keniscayaan. Adalah kewajiban misi. Adalah kewajiban jati diri bahwa pendidikan tidak boleh bersifat transaksional. Bahwa pendidikan tidak boleh bersifat komersial. Bahwa pendidikan bukan investasi. Tapi kedermawanan.
Kapan sebuah lembaga pendidikan mulai bergerak membangun endowment fund? Tidak lama setelah urusan operasional kampus berjalan normal. Yale butuh 25 tahun untuk itu. Cukup lama. Tapi waktu yang lama itu terjadi karena ketika itu endoment fund dan pengelolaannya memang belum seperti sekarang. Bahkan belum ada. Yale adalah salah satu pelopor endowment fund di dunia pendidikan.
Dalam perjalanan panjang endowement fund Yale itu ada peran besar David F Swensen. Dia adalah chief investment officer Yale University. Sebelum memegang posisi itu pada tahun 1985, Swensen telah bekerja 7 tahun di Wall Street, 3 tahun di Lehman Brothers, dan 3 tahun di Solomon Brothers. Semuanya di bidang investasi. Jadi, penulis buku “Pioneering Portfolio Management an Unconventional Aproach To Institution Invetment” ini bukan anak kemarin sore dalam urusan manajemen aset. Swensen memegang possisinya di Yale sampai akhir hayat pada tahun 2021. Dai meningkatkan nilai dana abadi Yale dari USD 1 miliar saat dia masuk menjadi USD 31 miliar saat ia meninggal.
Anda pengelola lembaga pendidikan? Anda aktivis dunia pendidikan? Anda rektor? Kepala sekolah? Ketua yayasan pendidikan? Atau guru? Ustadz? Dosen? Mari meneladani Yale. Teladani jati diri sosialnya. Teladani perjalanan 300 tahun kedermawanannya. Teladani kemampuannya menemukan orang yang tepat untuk pengelolaan investasi dana abadinya. Semoga.
Karya ke 516 Iman Supriyono ini ditulis di Masjid Arroyan, Galaxi Bumi Perma, Surabaya selepas salat lohor 30 Ramadhan 1447 KHGT
Diskusi lebih lanjut? Silakan bergabung Grup Telegram atau Grup WA KORPORATISASI atau hadiri KELAS KORPORATISASI
Anda memahami korporasi? Klik untuk uji kelayakan Anda sebagai insan korporasi
Baca Juga
Iktikaf H9: Investasi Wakaf Bagaiama Kalau Rugi?
Iktikaf H8: Semangat Tumbuah Dalam Keprihatinan Panjang
Iktikaf H7: Wakaf “Menjual” Dari Nol
iktikaf H6: Takmir Masjid Yayasan atau Perkumpulan?
Iktikaf H5: Wakaf dan Endowment Fund, Sama atau Beda?
Iktikaf H4: Perusahaan Yang Menolak Wakaf
Iktikaf H3: Family Office dan Wakaf
Iktikaf H2: Wakaf menanam pohon: Lily Endowment
Iktikaf H1: Wakaf dan Dana Abadi Sebagai Investing Company ala Saratoga








